Tedhak Siten: Ritual Pasca Pernikahan Dan Indikator Kesehatan Perkawinan

Oleh : H. Gempar Ikka Wijaya

Di beberapa wilayah di tanah air dikenal adanya upacara tedhak siten atau upacara turun tanah. Tedhak Siten adalah salah satu ritual budaya pasca pernikahan yang penting untuk dilakukan. Upacara ini diperuntukkan bagi bayi yang mendekati usia 8 bulan (pitung lapan). Di pulau Jawa ada beberapa versi ritual budaya. Demikian juga versi tedhak siten secara beragam juga ditemukan di Pulau Sulawesi, Sumatra, Nusa Tenggara ataupun beberapa wilayah Indonesia yang lain. Masing-masing memiliki model, versi, dan kombinasi ritual budaya yang beragam.

Sebuah rangkaian ritual budayapun dilaksanakan untuk menyambut tahapan usia berjalan sang bayi. Pada umumnya ritual utama tedhak siten ini meliputi empat tahapan. Tahapan pertama jabang bayi diminta berjalan menginjakkan kaki pada kue jaddah 7 warna (putih, merah, hijau, kuning, biru, coklat, ungu). Masing-masing warna jaddah membawa makna dan pemahaman yang mendalam yang melambangkan seluruh tahapan dalam perjalanan kehidupan jabang bayi sepanjang kehidupannya.


Tahapan kedua sang jabang bayi dibawa berjalan mendaki tangga yang terbuat dari pohon tebu hitam. Makna terdalam dari ritual ini memberi lambang, agar dalam kehidupannya si bayi dapat berjalan lurus dan selalu meningkat derajat kehidupan dan pengetahuannya.

 

Tahapan ketiga sang bayi dimasukkan ke dalam kurungan (kurungan ayam terbuat dari bambu). Dalam tradisi masuk kurungan ini, bayi kemudian diminta untuk memilih berbagai perangkat yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Perangkat yang biasanya dimasukkan ke dalam kurungan ini adalah handphone, kertas, alat tulis, miniatur alat kedokteran, dan berbagai macam alat yang lain. Konon apa yang dipilih oleh sang bayi itulah yang nanti akan menjadi jalan kehidupan sang bayi di masa depan/

Tahap keempat si bayi dimandikan dengan air gege (air yang telah disimpan semalam dalam tempayan dan pagi harinya dihangatkan dengan sinar matahari pagi). Tahap akhir upacara ditutup dengan ritual budaya udhik-udhik oleh nenek sang bayi. Yang disebut udhik-udhik adalah campuran antara beragam biji-bijian (kacang tanah, kacang hijau, dan sebagainya) dan uang logam. Uniknya campuran uang dan biji-bijian ini dibagikan dengan cara melempar kepada para undangan yang hadir. Masyarakat yang hadir ikut berebut uang logam yang dibagikan. Beberapa keluarga yang lebih kaya mengganti uang pecahan logam dengan uang kertas nominal 20 ribuan atau bahkan 50 ribuan, sehingga menjadi menarik pada saat prosesi pembagiannya.

 

Indikator Kesehatan Perkawinan, Bayi, dan Kesiapan Sosio Ekonomi Orang Tua

Di luar makna ritual budaya yang biasa dikenali oleh masyarakat. tedhak siten menyimpan makna adanya sebuah indikator penting bagi kontrol kesehatan perkawinan, tingkat perkembangan jabang bayi, dan kesiapan sosio ekonomi orang tua.

Tedhak siten menjadi indikator penting keberhasilan sebuah perkawinan dalam menjaga rumah tangga, anak-anak hasil perkawinan, dan hubungan silaturahmi dengan masyakarat sekitar. Masyarakat dapat melihat keberhasilan sebuah perkawinan dari jalannya upacara tedhal siten yang dilakukan. Bagaimana komunikasi pasangan suami istri dengan sang bayi, dengan orang tuanya, dan dengan masyakaratnya.

Selain indikator keberhasil sebuah perkawinan, konon tedhak siten juga menjadi indikator pengukur tingkat kecukupan gizi bayi, yang didisain sangat detil oleh para tokoh spiritual masa lalu. Uba rampe yang berisi tumpeng dengan berbagai macam ragam jajanan pasar, makanan sehat, dan segar lain adalah contoh pengenalan konsep makanan sehat yang harus tersedia bagi perkembangan fisik sang jebeng bayi. Sementara berbagai pilihan mainan bagi bayi yang ada dalam kurungan adalah contoh indikator tingkat perkembangan sisi psikologis sang bayi.

Pada usia 8 bulan sang bayi harus bersiap untuk berjalan. Orang tua akan dikontrol kemampuannya menjaga kesiapan gizi fisik oleh masyarakat. Ketika tedhak siten tidak dilakukan, tanggung jawab pemenuhan gizi bayi hanya tertumpu pada orang tua, tapi dengan upacara ini masyarakat ikut memberi kotribusi pengawasan. Pemerintah hanya menjadi administrator yang mengambil data pengawasan dan kontrol yang dilakukan oleh masyarakat dalam upacara tedhak siten.

Demikian pula proses penjagaan psikis dan aspek perkembangan sosio ekonomi keluarga dalam tedhak siten terlihat sangat dominan. Konsep penjagaan sebuah keluarga oleh msayarakat dan negara sangat kental terlihat dalam upacara tewdhak siten ini.

Selain ada aspek pengawasan ketercukupan fisik dan psikologis sang bayi oleh masyarakat, aspek sosio ekonomi orang tua, upacara tedhak siten juga memberikan aspek pendidikan sosial kemasyarakatan yang sangat mendalam bagi bayi.

Bayi diajarkan untuk memahami budaya sosial kemasyarakatan, sehingga akan menghapus adanya potensi sifat asosial dalam perkembangan sang bayi. Pada bayi dikenalkan sikap keterbukaan, egaliter, dan memahami fungsi berbagai interaksi masyakarat dalam kehidupannya di masa depan. Inilah berbagai aspek mendasar dan mendalam dari sebuah upacara sederhana yang konon sengaja dibuat oleh Sunan Kalijaga itu.

Upacara tedhak siten sebenarnya membantu berbagai upaya kontrol kesehatan dan gizi bayi yang selama ini telah dilakukan oleh pemerintah. Program pos yandu, puskesmas, dan polindes nisalnya, akan terbantu oleh tersebar luasnya kembali budaya tedhak siten. Masyarakat akan cepet mengenali bayi-bayi yang kurang gizi dan orang tua yang memiliki kelemahan posisi sosial ekonomi. Sementara pemerintah dalam kondisi strata informasi seperti ini dapat memainkan perannya sdebagai pengambil keputusan yang lebih baik. Secara prinsip, kemudian [emerintah dapat mengambil alih, peran penjagaan fisik dan psikologis bayi, jika orang tuanya mengalami kesulitan, melalui informasi langsung dari masyarakat ini.

Melakukan upacara tedhak siten bukanlah hanya semata-mata melestarikan budaya yang unik, akan tetapi juga mempunyai fungsi dalam membantu pemerintah menjaga indikator gizi dan kesehatan bayi. Melakukan upacara ini akan membantu menghapus berbagai ancaman gizi buruk yang saat ini sangat potensial terjadi karena kelemahan pencatatan rekam asokan gizi bayi. (GIW, 23 Januari 2010)

This entry was posted in Seni Dan Budaya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s