PERANG BUBAT : TITIK TEMU TAFSIR SEJARAH DAN ROMANTISME CINTA SUNDA MAJAPAHIT (2)

Oleh : Gempar Ikka Wijaya

Perang Bubat memang terjadi akan tetapi tidak pernah ada korban yang jatuh dari kedua belah pihak. Tidak pernah ada korban jiwa dari  Majapahit ataupun Sunda

 ROMANTISME PERKAWINAN YANG MEGAH DAN MASHYUR

           Peristiwa Bubat terjadi karena dorongan inspirasi kuat Pra Majapahit. Sri Prabu Jayabaya dari Kedhiri memberikan ide yang kuat tentang penyatuan Timur-Barat yang akan membawa kejayaan Nusantara (Serat Aji Pamasa). Inspirasi besar ini, menjadi mantera yang menembus ruang dan waktu.  Dari Kerajaan Airlangga, Singashari, sampai ke jaman kejayaan Majapahit.

Kisah penyatuan Janggala dan Panjalu oleh Empu Barada dikenal pada masa jaman kerajaan Airlangga. Janggala representasi kerajaan Timur dan Panjalu (Nama kerajaan Sunda) adalah kerajaan Barat. Pada Masa Majapahit representasi ini bergeser. Nusantara mencapai kejayaan, jika entitas ke-Timur-an (Majapahit)  bersatu dengan entitas ke-Barat-an (Sunda).

            Gajah Mada sangat faham semangat ini. Meskipun dalam Sumpah Palapa, Gajah Mada menyebut Sunda disamping Pahang, Seram, Guru, dan wilayah Nusantara lain. Dalam praktek tidak pernah ada pasukan Majapahit yang dikerahkan menyerang Sunda. Ekspedisi Gajah Mada, melampaui seluruh wilayah Nusantara dengan peperangan dan penaklukan dahsyat.

Gajah Mada menerima inspirasi Timur-Barat, tidak dalam kerangka ekspedisi militer. Makna penyatuan Timur-Barat ditafsirkan dengan sebuah ikatan perkawinan. Hal ini juga difahami oleh Hayam Wuruk. Hayam Wuruk sendiri adalah penamaan Sunda yang berarti “tidak ingin (hayam) gagal (wuruk)”.

            Tanda lain adalah lambang kerajaan Majapahit yang dikenal berupa Surya Majapahit. Lambang ini terserak di seluruh situs Trowulan dan petilasan Majapahit di Indonesia. Surya (Matahari) Majapahit terbit dari timur, tenggelam di ufuk Barat. Lambang yang memperkuat inspirasi penyatuan ke-Timur-an (Majapahit) dan ke-Barat-an (Sunda).

Tidak boleh ada yang menghalangi penyatuan ini. Penyatuan yang tanpa peperangan dan pertempuran. Karena Timur (Pria atau Lingga) adalah pasangan Barat (Wanita atau Yoni). Sebuah lambang kompleks yang sangat dihormati dalam Trantra, sinkretisme agama Shiwa Budha.

Jika ada peperangan, maka akan ada kemusnahan. Ketika musnah,  matahari Majapahit tidak akan mampu terbit. Karena tidak lagi menemukan tempat terbenamnya di Kerajaan Sunda.

Aspek lambang, pemahaman struktur budaya, filosofis, dan motif religius, yang rumit, kompleks dan sangat dominan mewarnai peristiwa perkawinan Majapahit dan Sunda. Realitas ini berbeda dengan pandangan sebagian sejarawan yang menganggap perkawinan ini adalah akal-akalan Gajah Mada.

PENGKHIANATAN PRA ACARA PERNIKAHAN

             Proses pernikahan kedua kerajaan besar ini, telah dirancang dengan detil. Iring-iringan pengantin Sunda menuju Majapahit, tidak terkait dengan pemenuhan Sumpah Palapa, Sumpah Penaklukan Nusantara. Bahkan pengantin sampai ke Majapahit dengan selamat, damai, dan diberikan lokasi di Bubat.

Gajah Mada sang ahli strategi, tidak perlu susah-susah memberikan tempat di Bubat. Jika tujuan awalnya adalah penaklukan. Pasukan Majapahit dapat saja dikerahkan menghancurkan Sunda. Bahkan jika cara licik digunakan, rombongan pengantin tersebut dapat saja dihancurkan di tengah perjalanan, tidak perlu menunggu sampai di Bubat.

Yang gagal diperhitungan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, dalam memenuhi ramalan tentang kejayaan Nusantara, akibat perkawinan besar itu,  adalah adanya pihak internal yang berkhianat.

            Sebuah Kidung lama di Majapahit, menceritakan peran sentral Paman Hayam Wuruk, dalam kekacauan Bubat. Paman Hayam Wuruk menginginkan agar putrinya menjadi Prameswari, Permaisuri Majapahit. Perkawinan inspiratif ini ditentang dengan diam-diam. Sebuah pasukan khusus dipersiapkan dan diarahkan menuju Bubat tanpa sepengetahuan Gajah Mada dan Hayam Wuruk.

            Pasukan menyerang Bubat dengan tiba-tiba, menjelang matahari terbit. Akan tetapi telik sandhi Sunda telah mengetahui gerakan mencurigakan ini. Strategi darurat dilakukan oleh rombongan Sunda dengan cepat.

Ketika pasukan Majapahit datang dengan peralatan perang, seluruh lokasi perkemahan telah kosong dari rombongan. Serangan kepada perkemahan tidak menemukan satu pun prajurit Sunda. Sebuah sumber kidung lama menggambarkan, bahwa pasukan Majapahit ini hanya berhasil menebaskan pedang panah pada gedhebog pisang di Bubat. Tidak ada satupun anggota rombongan Sunda yang terluka. Rombongan pengantin berhasil menyingkir dengan cepat.

            Gagal membantai rombongan Sunda, pasukan yang marah menyangka Gajah Mada telah mendahului menyembunyikan rombongan Sunda. Pasukan  bergerak ke kediaman Gajah Mada. Di lapangan depan rumah, istri dan anak Gajah Mada dibantai. Gajah Mada sendiri gagal ditemukan. Dalam versi kidung lain, disebutkan bahwa setelah melihat anak istrinya meninggal, Gajah Mada murka dan moksa (menghilang ke alam dwi pantara) tanpa luka sedikitpun.

Moksanya rombongan Sunda dan Gajah Mada, membuat Hayam Wuruk kebingungan. Keinginan mewujudkan ramalan dan inspirasi Jayabaya terancam gagal. Hayam Wuruk sangat murka dan memutuskan mencari Gajah Mada dan rombongan Sunda ke seluruh Penjuru Pulau Jawa.

            Dalam catatan sejarah dan kidung, perjalanan Hayam Wuruk mengembara ini sangat terkenal. Hayam Wuruk menutupi pengembaraannya dengan menarikan tarian topeng, mancolo putra mancolo putri. Sebuah situs di daerah Pacalang, Majalaya, Bandung, diyakini sebagai lokasi yang juga didatangi oleh Hayam Wuruk untuk mencari Dyah Pitaloka yang moksa ini, disamping banyak lokasi lain yang tersebar di seluruh Pulau Jawa. Bahkan dikerajaan Sunda Hayam Wuruk berhasil menceritakan kehilangan mendalamnya itu pada keluarga raja yang tertinggal. Hal ini pula yang menerangkan mengapa setelah Bubat, negara Sunda tidak balik menyerang Majapahit, akan tetapi justru memberikan upeti sebagai tanda ikatan kekerabatan dan keluarga. Negara Sunda memahami dengan baik moksanya Dyah Pitaloka dan Prabu Linggabhuwana.

This entry was posted in Sejarah. Bookmark the permalink.

One Response to PERANG BUBAT : TITIK TEMU TAFSIR SEJARAH DAN ROMANTISME CINTA SUNDA MAJAPAHIT (2)

  1. Artikel Perang Bubat ini dicuplik oleh Para kaskuser di tread Kaskus : http://www.kaskus.us/showthread.php?p=591900787. Diskusi di Kaskus ini cukup seru. Analisis oleh Penulis di blog ini menjadi salah satu analisis yang membongkar keburukan dan kejahatan Belanda dalam strategi pecah belah dan kuda Troyanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s